Perkembangan digital marketing bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kurikulum formal, webinar instan, atau sekadar thread media sosial. Algoritma berubah, perilaku audiens bergeser, dan tools baru terus bermunculan. Masalahnya, banyak sumber belajar masih mengajarkan digital marketing seolah-olah ini ilmu statis.
Di sinilah banyak orang terjebak: belajar terlalu teoritis, terlalu umum, atau terlalu fokus pada satu channel tanpa memahami konteks bisnis secara utuh.
Table of Contents
ToggleKenapa Banyak Orang Ngerasa Belajar Digital Marketing Itu Susah?
Ini realita pahitnya yang banyak orang alami. Banyak yang sudah ikut course, nonton ratusan video, bahkan punya sertifikat. Tapi, tetap gak paham cara kerja digital marketing secara utuh.
Justru, kebanyakan masih terlalu berpaku ke hal-hal spesifik di ranahnya masing-masing tanpa bisa ngasi korelasi antara keahliannya dengan prinsip digital marketing secara umum. Mau itu orang SEO, SEM, sosmed, hal ini sering terjadi.
Sebetulnya bukan karena mereka malas, bukan pula karena gak mampu belajar. Tapi karena cara belajarnya keliru.
Salah mereka juga? Hmm, not really. Banyak bahan belajar di luar sana memang terlalu berpaku ke hal-hal spesifik dan melupakan hal fundamental. Buat yang baru belajar, tentu bakal keseret arus.
Mayoritas materi digital marketing di luar sana:
- Terlalu fokus ke how-to, minim why.
- Ngajarin tools, tapi gak ngajarin cara berpikir.
- Kasih checklist, tapi gak kasih konteks.
Akibatnya, banyak praktisi cuma jago eksekusi teknis, tapi bingung saat:
- Traffic naik tapi sales stagnan.
- Ranking bagus tapi bounce rate tinggi.
- Konten banyak tapi gak bangun brand.
- Satu pendekatan dipake ke semua klien/kasus.
Di titik ini, masalahnya bukan skill lagi, tapi cara memahami digital marketing.
Belajar Digital Marketing Harus Dimulai dari Cara Berpikir
Digital marketing bukan sekadar soal “apa yang harus dilakukan”, tapi:
- Masalah bisnis apa yang mau diselesaikan?
- Siapa audiensnya dan di tahap mana mereka berada?
- Channel mana yang relevan dan kenapa?
Tanpa mindset ini, belajar digital marketing cuma akan jadi aktivitas ngumpulin ilmu tanpa arah. Inilah kenapa banyak orang stuck di level operasional bertahun-tahun. Mereka sibuk ngerjain task, tapi gak pernah naik ke level strategi.
Belajar digital marketing seharusnya bikin kita:
- Paham hubungan antara channel
- Bisa ambil keputusan berbasis data dan konteks
- Mengerti dampak setiap aktivitas ke bisnis
AndiLearn: Belajar Digital Marketing dari Konsep
AndiLearn lahir bukan dari keinginan bikin platform belajar semata, tapi dari keresahan nyata di lapangan.
Banyak materi digital marketing bagus, tapi terpisah-pisah. Banyak course mahal, tapi gak relevan sama kondisi real bisnis. Banyak tutorial teknis, tapi gak ngajarin cara mikir.
I Putu Febrian Andira Putra, biasa dipanggil Andi, adalah pendiri AndiLearn sekaligus SEO Specialist dengan pengalaman menangani puluhan website dari berbagai niche. Dulu pun Andi juga pernah merasakan hal yang sama.
Ngerasa susahnya nyari materi sampai bacaan digital marketing yang bener-bener ngajarin cara berpikir yang benar dan manfaatin skill yang ada untuk kemajuan bisnis. Itulah jadi alasan utama kenapa AndiLearn ada.
AndiLearn dibangun dengan pendekatan berbeda:
- Digital marketing dipelajari sebagai sistem, bukan silo
- Fokus ke konteks bisnis, bukan sekadar ranking atau angka
- Materi disusun berdasarkan pengalaman nyata, bukan teori kosong
Tujuannya sederhana, yaitu bantu orang paham, bukan cuma bisa eksekusi.
Apa yang Membuat AndiLearn Berbeda?
AndiLearn lahir dari keresahan proses belajar. Tentu, ini membuat AndiLearn berbeda dari kebanyakan website belajar digital marketing di luar sana.
1. Materi yang Relevan dengan Kondisi Nyata
AndiLearn gak ngejar tren sesaat. Materinya disusun berdasarkan praktik yang benar-benar dipakai di dunia kerja dan bisnis.
Kamu gak cuma belajar apa yang harus dilakukan, tapi kenapa itu dilakukan dan kapan strategi tersebut relevan.
2. Fokus ke Dampak, Bukan Vanity Metric
Traffic, impression, dan ranking itu penting — tapi bukan tujuan akhir.
Di AndiLearn, pembahasan selalu ditarik ke satu pertanyaan besar: apa dampaknya ke bisnis?
Pendekatan ini bikin kamu terbiasa mikir sebagai problem solver, bukan sekadar operator.
3. Up-to-date Tanpa Kehilangan Fondasi
Algoritma berubah. Tools datang dan pergi. Tapi fondasi digital marketing tetap sama – memahami audiens, menyusun strategi, dan mengeksekusi dengan konteks.
AndiLearn menjaga keseimbangan antara update terbaru dan prinsip dasar yang gak lekang waktu.
Digital Marketing Itu Maraton, Bukan Sprint
Kalau kamu cari jalan pintas, digital marketing bukan tempatnya.
Tapi kalau kamu pengen membangun skill yang relevan jangka panjang — skill yang bisa dipakai di berbagai industri dan kondisi — maka kamu perlu belajar dengan cara yang benar.
Bukan sekadar nambah ilmu, tapi mengubah cara berpikir.
Dan di situlah AndiLearn mengambil peran sebagai tempat belajar digital marketing yang realistis, kontekstual, dan berorientasi ke dampak nyata.
Karena pada akhirnya, digital marketing yang bagus bukan yang kelihatan keren di dashboard — tapi yang benar-benar bekerja untuk bisnis.
